Suka Dipuji, Jerat Setan yg Mematikan
Oleh : Syaikh Wahid Abd.Salam Bali
Ketahuilah wahai saudaraku, jika anda adalah orang yg suka dipuji, berarti setan telah merasuki diri anda dari pintu ujub yg merupakan penyakit mematikan. Jika dipuji dg sesuatu yg ada dlm diri anda, anda bisa mengatasinya dg mengingat berbagai aib, kelemahan, & dosa² yg pernah anda perbuat. Sebab setiap manusia pasti punya aib & dosa. Seperti dikatakan oleh seorang Salafush Shalih ketika dipuji, "Sekiranya dosa mempunyai bau, niscaya tak seorang pun yg mau mendekati sy."Tetapi jika anda dipuji dg sesuatu yg tdk ada pd diri anda, janganlah anda bergembira dg hal itu. Karena itu berarti kegilaan. Salah seorang Ahli Hikmah berkata, "Barangsiapa yg ridho dipuji dg sesuatu yg tdk ada pd dirinya, sesungguhnya ia telah memberikan peluang bagi org utk menghinakannya."
Ibnul Muqaffa' berkata, "Org yg menerima pujian sama dg org yg memuji dirinya sendiri." (Adabud Dunya wad Din, hal.213)
Ketahuilah! Pujian itu mengandung berbagai bencana & bahaya. Di antaranya bs membuat seseorang membanggakan diri & berlaku sombong. Ini adalah pintu kehancuran bagi org yg dipuji.
Dr Abu Musa Al-Asy'ari r.a. berkata, "Rasulullah SAW pernah mendengarseseorang memuji saudaranya, dan ia sangat menyanjungnya. Maka beliau bersabda :
اهلكتم -- اوقطعتم -- ظهر الرجل
Kalian telah membinasakan atau memotong punggung lelaki ini." (HR. Bukhari & Muslim)
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pujian sangat berbahaya.
Dari Abu Bakar r.a., ia berkata, "Ada seseorang yg disebut-sebut di hadapan Rasulullah SAW, lalu ada org lain yg memujinya, maka beliau bersabda :
"Celakalah engkau, sesungguhnya kamu telah memotong leher saudaramu -beliau mengilanginya berkali²- kalau memang kalian hrs memuji, tdk mengapa, namun hendaknya ia mengatakan, 'Sy beranggapan begini & begini...' Jika memang org itu spt yg ia katakan. Dan cukuplah Allah yg mengetahuinya. Dan ia tdk mensucikan siapa pun kpd Allah." (HR.Bukhari & Muslim)
Di antara bahaya lain dr pujian adalah membuat org yg dipuji buta akan aib & kekurangan dirinya. Sehingga tdk mau introspeksi dg sungguh². Selain itu org yg dipuji akan mengira bhwa dirinya sdh baik shg tak mau bersungguh² utk memperbanyak amal ketaatan.
Oleh krn itu Ziyad bin Abu Muslim berkata, "Tidaklah seseorang menerima pujian / sanjungan atas dirinya, melainkan setan akan membanggakan hal itu pd dirinya."
Salah seorang Salafush Shalih berkata, "Barangsiapa yg gembira dg pujian, berarti ia telah membuka peluang bagi setan utk memasuki hatinya."
Salafush Shalih yg lain berujar, "Jika dikatakan kpd mu, 'sebaik² org adalah anda', yg hal itu lebih kamu sukai drpd dikatakan, 'seburuk² org adalah anda', maka demi Allah, sebenarnya kamu adalah org yg paling buruk." Oleh krn itu, Umar bin Khathab pernah berkata, "Peliharalah dirimu dr pujian, krn itu adalah sembelihan." (Rawi Mu'awiyah, Ahmad, Ibnu Majah)
Abu Hamid Al-Ghazali berkata, "Ketahuilah ! Bahwa dlm perkara pujian dan celaan, kondisi manusia terbagi ke dlm 4 macam :
Pertama, ia merasa gembira dg pujian & berterima kasih karenanya. Sebaliknya, ia marah atas celaan & mendengki pencelanya serta akan membalas dendam.
Kedua, hatinya merasa gembira atas pujian dan marah atas celaan, tanpa mengekspresikan secara lahiriah.
Ketiga, sikapnya datar pd pujian & celaan, tdk risau dg celaan, pun tdk gembira dg pujian.
Keempat, ia membenci pujian & menyukai celaan. Krn ia paham, pujian adalah fitnah bagi diri & agamanya. Sedang celaan menunjukkan utk dirinya aib, kekurangan, dan dosanya.
Karena itulah, Nabi Muhammad SAW menyuruh utk menaburkan tanah pd wajah org² yg suka memuji. Suatu ketika, Miqdad r.a. melihat seseorang memuji Utsman bin Affan r.a. maka Miqdad menghampiri org itu lalu berjongkok, kmd ia menaburkan kerikil pd wajah org tsb. Utsman berkata, "Ada apa dgn mu?". Miqdad menjawab, "Rasulullah bersabda,
اذارايتم المداحين فاحثوا في وجوههم التراب
'Apabila kalian melihat org² yg suka memuji, maka taburkanlah tanah pd wajah mereka'." (HR. Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah)
(Judul asli : Wiqaayatul insani minal jinni wasy-syaithaani Ash-shaarimul bataari fit tashaddi lis saharati al-asyraar)
Rewrite : Rmh Sehat el-iman Kudus, Jawa Tengah
No comments