Breaking News

MODAL CALEG Sukses


(share dari fb Sugeng Riyanto Aleg PKS Solo)

     Suatu ketika, seorang mahasiswi FISIP sebuah perguruan tinggi negeri di Solo mewawancaraiku. Salah satu pertanyaannya terkait pengalaman pencalegan. Apa modal seorang caleg sehingga dia bisa terpilih sebagai anggota legislatif, dalam hal ini berdasarkan pengalaman pak Sugeng? Mendapatkan pertanyaan itu, aku mencoba memeras sebuah konsep pemenangan yang rumit dan melelahkan menjadi sesuatu yang sederhana. Ku sampaikan kepada mahasiswi di depanku, bahwa seorang caleg hanya memerlukan 3C agar dia terpilih. C pertama adalah Cakep. Karena sesungguhnya seorang caleg sedang dituntut untuk sell her self, menjual dirinya. Maka dalam perspektif marketing, sebuah produk hanya akan laku jika memiliki performa yang bagus. Eye catching secara tampak luar, dan memiliki gestur yang menarik. Dalam kultur Jawa, dikenal satu idiom ajining diri saka lati, ajining sariro saka busana. Memahami konsep ini secara baik dan menerapkannya dalam interaksi keseharian, akan menjadikan seorang caleg memiliki persyaratan pertama yang dia butuhkan, Cakep. Jangan pernah berharap mendapatkan simpati pemilih jika penampilan luarnya saja sudah tidak madolke. Rambut sering terlihat acak2an, gigi sering terlihat tidak sikatan, baju lusuh seoerti tidak setrikaan, keringat bau seperri gak pernah sabunan, bicara belepotan seperti gak pernah bau sekolahan, seng meh milih njuk sopo....? C yang pertama ini, sering orang sebut sebagai akseptabilitas, keterterimaan secara fisik dan perangai luar keseharian.
     C yang kedua adalah Cakap. Karena menjadi anggota legislatif pada prinsipnya adalah menjadi wakil rakyat, maka sesungguhnya, rakyat menghajatkan wakilnya ini memiliki kecakapan yang memadai. Ada 3 tugas dan fungsi pokok seorang anggota legislatif. Pertama, dia adalah legislator, yang memproduk berragam regulasi atau peraturan daerah dalam konteks DPRD, atau Undang-undang dalam konteks DPR. Kualitas sebuah regulasi akan sangat dipengaruhi oleh knowlegde atau apa yang ada di kepala seorang wakil rakyat. Dan apa yang ada di dalam kepalanya sangat tergantung dari latar belakang pendidikan, pengalaman pergerakan, luasnya pergaulan dan jejaring, serta kemampuan menkonsolidasikan berbagai potensi itu dalam ide2 yang dituangkan dalam kalimat didalam pasal2 yang bernas.  Kedua, seorang anggota legislatif memiliki peran controlling atau fungsi pengawasan atas kinerja eksekutif. Dalam melakukan tugas ini, butuh seorang yang kritis, analitis dan berani serta bisa mengartikulasikannya dalam bahsa yang efektif dan efisien. Itu semua tidak akan bisa keluar jika dia pada posisi tersandra, tidak merdeka. Kok bisa? Bisa saja. Terlalu dekat dengan penguasa, berhutang budi dengan eksekutif, adalah hal2 yang bisa membunuh kekritisan, menyumpal keberanian dan mematikan analisisnya. Maka seorang anggota legislatif di tuntut memiliki integtitas. Ketiga, fungsi budgeting atau penganggaran. Fungsi ini nantinya bisa di mainkan ketika seorang anggota legislatif masuk dalam alat2 kelengkapan di DPRD. Bersama dengan eksekutif merancang berbagai mata anggaran untuk program dan kegiatan tahun depannya. Dalam rangka menjalankan fungsi ini, tidak harus dia pinter matematika. Yang dibutuhkan adalah keberpihakan yang bersifat strategis terhadap kepentingam masyarakat. Kecakapan2 ini bisa diasah dg aktif berorganisasi sejak muda. C yang kedua ini sering di katakan orang sebagai aspek kredibilitas.
     C yang ketiga adalah Cukup. Seorang caleg setidaknya butuh dua hal agar masyarakat pemilih mempercayainya untuk di wakili. Dan dua hal ini semestinya berjalan secara konsisten seoanjang waktu, tidak hanya pada saat jelang pemilu saja. Pertama, dia harus punya nyali untuk memahami. Kedua, harus punya hati untuk berbagi. Nyali memahami? Hati berbagi? Yup. Ada banyak permasalahan yang di hadapi masyarakat. Seorang caleg harus terbiasa terjun langsung mengenali, memahami persoalan2 itu. Terkadang, masyarakat hanya butuh di dengar dan di arahkan saja. Tetapi tidak jarang, masyarakat butuh solusi praktis jangka pendek. Disini seorang calon wakil rakyat harus siap menggunakan recourse yang dia miliki untuk andil menjadi bagian dari solusi. Istilah "enthengan lan tangane mbegar" harus benar2 muncul dari masyarakat ketika mepersonifikasikan seorang caleg. Enthengan karena dia suka membantu, tangane mbegar karena dia tidak pelit, suka berbagi. Dan ini semua hanya akan bisa terwujud jika seorang caleg benar2 Cukup. Caleg yang serba kekurangan, rasanya mustahil akan dipercaya masyarakat, apalagi jika kekurangannya pada aspek yang mendasar. Kekurangan kepedulian dan kekurangan sifat berbagi. Kebanyakan orang menyebut istilah Cukup ini dengan isitas, tapi aku lebih sreg dengan istilah isi hati. Karena isitas bisa di cari, tapi isi hati adalah karakter yang muncul dari budi.
     Mahasiswi yang mewawancarai saya manggut2 dan beropini. "Kelihatannya sederhana ya pak, hanya 3C, tapi ternyata dalam aplikasinya sangat tidak sederhana, pak. Wah berarti pak Sugeng dah punya 3 C donk pak, khan sudah terpilih sebagai anggota dewan...". Aku tidak mengiyakan. Hanya bertanya balik; "menurut mba, bagaimana?" Si mbaknya bilang ; kalo pak Sugeng sih sepertinya gak hanya 3C pak tapi 4C. Apa C satunya mba? Tanyaku. Cerdas pak, jawabnya. Ah, mba bisa saja,....
#2019tetepsugeng
#gandrungsolo

No comments