Benarkah masyarakat Swiss, kaya-raya?
Benarkah orang/masyarakat Swiss itu kaya raya, hanya karena negaranya digolongkan sebagai negara kaya di dunia? Jawabannya tidak sama-sekali. Tetapi, penduduk Swiss, adalah masyarakat yang teramat-sangat sejahtera. Apa bedanya kaya-raya dan sejahtera? Sangat berbeda....
Ini contohnya...
Seorang sarjana S1 lulusan dari universitas (jalur sains) atau Fach-hochschule (jalur politeknik) ketika memasuki dunia kerja akan mendapatkan gaji sekitar CHF 6.000-an per bulan atau Rp 84.000.000,- (delapan puluh empat juta rupiah) per bulan. Banyakkah jumlah itu? Jika gaji itu dipakai untuk hidup di Indonesia pastilah banyak sekali. Tetapi, jumlah itu sangat pas-pasan untuk hidup di Swiss terlebih bila sang sarjana tadi beristri dan beranak dua orang. Pasti ia menjadi sangat kekurangan. Biaya hidup di Swiss teramat tinggi yang menyebabkan gaji sebesar itu bisa pas-pasan. Boleh dibayangkan, sewa rumah untuk ukuran standard (di Swiss seperti juga di Jerman, semua ukuran rumah diukur sesuai takaran layak kemanusiaan). Jika standar layak menurut hukum dipatuhi (dan semua masyarakat harus tunduk pada hukum kesejahteraan), maka sang sarjana dengan keluarganya tersebut harus menyewa rumah setidaknya ukuran 80-100 meter persegi dengan ongkos sewa CHF 2.000,- per bulan atau Rp 28.000.000,- (dua puluh delapan juta rupiah) per bulan. (catatan 1 CHF = Rp 14.000,- pada bulan September 2017)
Sebagai keluarga yang hidup di negara kesejahteraan, keluarga tersebut juga harus membayar asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan dana pensiun bagi (jaminan hari tua) sang sarjana dihari tua. Untuk sekeluarga inti (4 kepala), sang keluarga sarjana ini mengeluarkan sekitar CHF 1.200,- per bulan atau sekitar Rp 16.800.000,- (enam belas juta delapan ratus ribu rupiah) per bulan. Sisanya untuk hidup sehari-hari, membayar bensin untuk mobil (catatan harga bensin setara Pertamax di Swiss adalah CHF 1.5/liter atau Rp 21.000,- per liter - tak ada bensin Premium di Swiss). Makan siang di rumah makan standar per orang harus mengeluarkan CHF 20,- per sekali makan (atau Rp 280.000,-) untuk sepiring makanan dan minuman. Harga sebotol air mineral 600 ml yang di Jakarta Rp 3.000,- per botol..di Swiss, harganya Rp 30.000,- per botol. Tarif kereta api cepat berjarak 150 Km (kelas 2), orang harus bayar CHF 56,- atau sekitar Rp 800.000,- per orang dewasa per sekali jalan.
Dan seterusnya, sehingga sebagai karyawan biasa dengan gaji CHF 6.000,- (enam ribu Swiss Franc) per bulan, bisa dipastikan hidup di Swiss (suami-isteri dan 2 anak), pastilah pas-pasan. Namun, mereka yang manajer, gurubesar di universitas, dan kelas menengah lain memang pendapatannya bisa 3-4 kali lipat dari sang karyawan tadi. Pun mereka tidak kaya-raya, karena pajaknya pun luar biasa tingginya. Semakin tinggi gajinya, pajaknya pun semakin besar.
Namun, benarkah seorang karyawan akan kekurangan? Jawabannya, tidak. Kenapa? Karena negara (melalui Gemeinde atau kantor pemerintah kota) akan memback-up sang karyawan lulusan sarjana tadi secara habis-habisan melalui pajak para orang yang bergaji 4-5 kali darinya. Ada tunjangan anak, ada tunjangan sosial dan sebagainya sehingga hidup menjadi bergairah. Dengan gaji sedemikian pun, keluarga tadi pun bisa menikmati liburan.
Produktivitas SDM dipacu dengan gaji. Semakin tinggi gajinya, kelak pensiun yang didapatkan pun akan tinggi. Semua warga Swiss (tak peduli PNS ataupun swasta maupun petani) semua di hari tua akan menerima tunjangan sosial-kesejahteraan di hari tua bernama AHV yang besarnya rata CHF 2500,- per orang per bulan (diambilkan dari pajak). Bagi yang memiliki gaji, dana pensiun dari pemerintah pasti di atas AHV. Dengan uang tersebut, minimum survival (seorang diri) dipenuhi walau pas-pasan (namanya juga pensiunan). Tetapi, negara via pemerintah daerah akan memberikan tunjangan lain (sesuai kemampuan pemerintah daerah), hingga seseorang tetap bisa hidup layak pada akhirnya. Pun sekolah sejak SD sampai anda S1, S2, S3 di Swiss gratis seperti juga di Jerman bagi penduduknya. Kita ingin meraih 3 kali doktor pun, semua gratis (bandingkan dengan Indonesia - sekolah serba mahal).
Jadi benarkah orang Swiss kaya raya? Jawabannya tidak. Orang Swiss tidak kaya raya, melainkan...orang Swiss hidupnya sejahtera, karena Individu, Swasta dan Negara bekerja bahu-membahu menegakkan kesejahteraan. Mereka bukanlah hidup dalam kemewahan ala selebritis kaya raya. Berbeda dengan di Indonesia, ada orang bergaji sampai Rp 100.000.000,- bahkan Rp 250.000.000,- per bulan (para direktur sektor swasta, perbankan, direktur BUMN), tetapi di satu saat yang sama ada tukang bajai, sopir angkot, buruh pikul yang pendapatannya hanya Rp 1.500.000,- per bulan....dan negara memberikan subsidi yang tidak optimal, kecuali BPJS kepada mereka golongan bawah ini. Keadaan ini sudah berjalan sejak 17.08.1945 sampai sekarang.
Salam hangat dari Swiss. Mari kita perbaiki Indonesia. Tidak perlu caci-maki. Berpikirlah dan bertindaklah untuk Indonesia yang lebih baik..
salam hangat
Arya Hadi Dharmawan
Geneva Swiss, September 2017
No comments